Cari Blog Ini

Rabu, 21 Januari 2009

Manusia Yang Pertama Beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW

Namanya Khadijah binti Khuwailid binti Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bi Qushay bin kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyyahh, Ia dilahirkan 15 tahun sebelum tahun gajah.

Khadijah termauk wanita Quraisy yang paling mulia nasabnya, paling terhormat dan juga paling kaya, ia dibesarkan di lingkungan keluarga terhormat. Oleh karena itu wajar bila ia menjadi wanita cerdas dan berwibawa. Ia terkenal sebagai wanita yang teguh memegang prinsip, brilian, pandai mengola harta, halus bahasanya, dan sangat menjaga kesucian dirinya. Sebelum Muhammad saw diangkat menjadi nabi dan rasul, Khadijah dijluki dengan sebutan “Thahirah” wani suci. Oleh karena itu wajar kalau ia menjadi wanita pujaan yang menjadi incaran laki-laki bangasawan maupun tokoh terkemuka dari kaumnya.

Ayahnya termasuk pemuka Quraisy yang memiliki kedudukan terhormat. ia termasuk salah seorang delegasi suku quraisy ke Yaman yang ditugas kan untuk memberi ucapan selamat kepada rajanya yang berbangsa Arab, Saif bin Dzi Yazan, ketika sang raja berhasil menaklukkan pasukan Abyssina dan mengusirnya dari tanah Yaman, dua tahun sesudah peristiwa Tahun Gajah.

Ibunya bernama Fathimah binti Za’idah bin al-Asham. Garis keturunannya ini tersambung sampai pada Lu’ay bin Ghalib, yaitu orang yang menjadi tokoh cikal bakal suku Quraisy. Pada Lu’ay bin Ghalib inilah nasab Khadijah bertemu dengan nasab Nabi saw, berdasarkan nasab diatas maka Khadijah adalah istri Rasulullah yang paling dekat hubungan nasabnya kepada beliau

Penikahan Ibunda khadijah sebelum nabi Muhammad SAW

Sebelum menikah dengan Nabi Saw Khadijah pernah menikah dg Abu Halal bin Zararah At-Tamimi dari penikahannya ini beliau dikarunia dua orang anak : Halah dan Hindun akan tetapi suaminya wafat dan selanjutnya beliau menikah lagi dengan 'Atiq bin 'Abid dalam riwayat lain dikatakan 'Aidz bin 'Abdullah Al-Makhzumi pernikahannya kali ini juga tidak berlangsung lama karena suaminya yang kedua ini juga keburu wafat.

Setelah suaminya yang kedua wafat, Ibunda Khadijah tidak mau lagi menikah meskipun banyak kalangan bangsawan yang melamarnya akan tetapi beliau selalu menolak secara halus dengan alasan beliau ingin mencurahkan perhatiannya dalam mendidik dan mengasuh kedua anaknya.

Pernikahan Ibunda Khadijah dg Nabi Muhammad Saw

Ketika Ibunda Khadijah sudah tidak mampu lagi terjun langsung untuk menangani bisnisnya, ia pun mencari orang yang dapat dipercaya, jujur, kuat dan mulia maka pilihan beliau jatuh pada Muhammad saw yang sudah tidak diragukan lagi kejujurannya yang juga terpecaya sehingga kaumnya memberi gelar al-Amin yang dapat dipercaya. Dalam hal ini Muhammad saw didampingi oleh pembantu Ibunda Khadijah yang bernama Maisarah.

Ternyata selama dengan Muhammad saw, Maisarah tergagum-gagum melihat keluhuran akhlaq Nabi Saw, cara transaksi beliau yang sangat bagus, kejujuran beliau dalam berbicara, kesempurnaan kepribadiannya dan sifat beliau sangat dipercaya..

Singkat cerita setelah balik dari Syam (tempat menjalankan bisnisnya) nabi dan maisarah kembali ke Makkah, dan Maisarah menceritakan perihal rasulullah kepada Ibunda Khadijah, setelah mendengar cerita dari Maisarah iapun langsung jatuh hati kepada Muhammad saw dan ingin segera mungkin menikah dengan beliau maka ia utus Nafisah, saudara perempuan Ya'la bin Umayyah sebagai penghubung sekaligus sebagai perantara yang menjelaskan keinginan Ibunda Khadijah untuk hidup berumah tangga dengan Nabi Muhammad saw. Akhirnya tibalah hari yang ditentukan itu dan yang bertidak selaku wali beliau adalah Paman beliau Abu Thalib.

Dari pernikahan beliau ini, Allah mengaruniai beberapa anak laki-laki dan perempuan, diantaranya adalah : Qasim, 'Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah, akan tetapi Qasim dan 'Abdullah meninggal dunia ketika masih menyusui.

Khadijah merupakan Orang yang pertama masuk Islam

Setelah beliau hidup bersama nabi beberapa waktu dan tibalah suatu masa dimana nabi mempunyai kebiasaan menyepi di Gua Hira', sebelum beliau berangkat terlebih dahulu beliau menyiapkan bekal secukupnya, setelah bekalan habis beliau kembali kepada khadijah untuk mengambil bekal lagi demikianlah seterusnya yang beliau lakukan sampai akhirnya pada suatu ketika datanglah wahyu tatkala beliau sedang berada di gua Hira'

Saat itu seorang malaikat datang kepada beliau lalu berkata "Iqra' [bacalah]

Lalu beliau menjawab : "maa ana biqoori" [aku tidak bisa membaca]

Beliau [nabi] berkisah :"Dia lalu memegangiku dan memelukku erat-erat sampai aku tak berdaya, kemudian ia melepaskanku dan berkata Iqra' aku memjawab maa ana biqoori, kemudian dia memegangiku lagi dan memeluk erat-erat untuk kedua kalinya sehingga aku kehabisan tenaga, kemudian ia melepaskanku dan berkata :"iqra' akupun menjawab : Maa ana biqoori' dia lalu memegangiku dan memelukku untuk yan ketiga kalinya, kemudian melepaskanku sambil berkata

Iqra' bismi robbikal ladzii kholaq. Kholaqol insaana min 'alaq. Iqra' wa roobukal akrom…

"bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan , yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah"

Setelah kejadian tersebut rasul kembali ke Istrinya dengan tubuh gemetar dan hati yang sangat resah, beliau berkata :"selimutilah aku! selimutilah aku! Khadijah pun menyelimuti beliau hingga akhirnya hilanglah rasa takutnya lalu beliau menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Khadijah lalu berkata : Sungguh aku takut sesuatu akan terjadi pada diriku." Degan bijak dan menghibur Khadijah menjawab :" tidak, demi Allah, Allah tidak akan menghinamu untuk selamannya sebab engkau adalah orang yang suka menyambung silatur rahim, suka meringankan beban orang lain, suka mengulurkan bantuan kepada orang banyak dengan sesuatu yang tidak didapatkan selain pada dirimu, suka menjamu tamu, dan menolong mereka yang membela kebenaran.

Setelah itu khadijah membawa Nabi Saw menghadap Waraqah bin Naufal bin Asad bin 'Abdul 'Uzza, putra paman Khadijah. Dia adalah seorang pendeta Nasrani yang taat menjalankan ajaran agamanya pada zaman jahiliyyah. Dialah yang pernah menulis buku berbahasa Ibrani, termasuk Kitab Injil sesuai kemampuan yang Allah berikan kepadanya. Waktu itu ia sudah tua dan buta.

Waraqah kemudian bertanya kepada Nabi saw Wahai anak laki-laki saudaraku, apa yang kamu lihat?

Rasulullah saw lantas menceritakan kepada Waraqah peristiwa yang beliau lihat.

Sesudah mendengar cerita Rasulullah, Waraqah berkata :"itu adalah Numus [Jibril] yang pernah diturunkan Allah kepada Nabi Musa As. Andai saja aku menjadi muda lagi …andai saja aku masih diberi kesempatan hidup … ketika kaummu nanti mengusirmu …

Rasulullah memotong pembicaraan Waraqah: Apakah mereka akan mengusirku???

Waraqah menjawab :"ia, tidak ada seorang [nabi] pun yang membawa seperti apa yang engkau bawa nanti, melainkan pasti akan dimusuhi.

Setelah Khadijah mendengar langsung cerita rasulullah saw tentang peristiwa yang beliau alami di gua dan juga mendengar langsung penjelasan dari Waraqah, ia menjadi yakin kalau Muhammad, suaminya, adalah Nabi yang ditunggu-tunggu itu, apalagi ia juga telah mendengar firman Allah yang berbunyi

"hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu, agungkanlah."

Berdasarkan bukti-bukti diatas Khadijahpun segera menyatakan keislamannya dan keimanannya kepada Allah, dengan demikian Khadijahlah orang pertama yang menyatakan diri beriman kepada Rasulullah saw.

Perjuangan Khadijah bersama Rasulullah saw

Mulai saat itu Rasulullah memasuki kehidupan baru yang penuh dengan kesulitan, halangan, dan rintangan dalam perjuangan dakwahnya. Sementara istrinya yang beriman selalu setia mendampinginya, turut berdakwah dengan ucapan dan perbuatan. Khadijah memulai dakwahnya kepada orang yang dibawah perlindungannya, yakni Zaid bin Haritsah, budaknya, lalu kepada keempat putrinya.

Seiring dengan perjalanan waktu, jumlah kaum muslimin pun bertambah. Oleh karena itu, ujian yang keraspun datang dari kaum musyrik Quraisy dan para pemimpin mereka yang ketakutan kehilangan pangkat, jabatan, dan kewibawaan Khadijahpun tak gentar menghadapi semua itu; nyalinya tak pernah ciut melihat ancaman kafir Quraisy. Dia berdiri tegak bersama rasulullah, rela mengorbankan jiwa, raga dan hartanya. Ia menyaksikan Nabi yang selalu tegar dalam mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah meski harus menghadapi bermacam-macam cobaan, intimidasi, dan penghinaan. Kian hari cobaan yang dihadapi semakin keras dalam usaha membendung laju perjalanan dakwah kepada Allah. Namun demikian, Khadijah selalu menghibur dan membersarkan hati suaminya. Diperlihatkannya kepada sang suami keimanannya yang kian hari justru semakin mantap.

Oleh karena itu, ketika kaum kafir Quraisy memboikot hubungan kekeluargaan dan ekonomi kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya, maka Khadijah tetap memilih Allah dan rasul-Nya. Ia bergabung bersama Rasulullah saw dan para sahabatnya dalam menghadapi pemboikotan itu.

Berat dan pedihnya perjuangan dalam menegakkan dakwah Islam dijalaninya dengan penuh kesabaran terhadap tekanan dan permusuhan. Meskipun demikian Khadijah tetap setia mendapingi Rasulullah saw. Dia turut menanggung beban dan siksaaan yang berat bertubi-tubi dan serba menggelisahkan hatinya. Khadijah benar-benar seorang istri shalihah dan bijaksana. Dia selalu menghibur Rasulullah untuk meringankan beban berat yang beliau hadapi. Dia berdiri disamping beliau untuk membangkitkan kekuatan dan semangat beliau.

Khadijah Wafat

Namun Allah telah menentukan kehendak-Nya. Khadijah pun dipanggil untuk berada di sisi-Nya, di surga-Nya, seperti yang telah dijanjikan Allah kepadanya, Khadijah wafat di depan suami yang sangat dicintainya semenjak pertama kali berjumpa. Dia telah membenarkan beliau, mengimani kerasulan beliau, dan berjuang bersama beliau sampai hembusan nafas terakhir. Bagi rasulullah saw Khadijah adalah istri penenang jiwa dan teman hidup yang sangat menyenangkan penuh pengertian sampai ia kembali ke pangkuan Rabbnya dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya.

Dia wafat tiga tahun sebelum Hijriyah dalam usia enam puluh lima tahun. Demikian kehidupan Khadijah, seorang istri yang sungguh bijaksana. Ia telah berusaha mencurahkan segenap kemampuannya untuk keridhaan Allah dan rasul-Nya.

Ya Allah ridhailah Ibu kami [ummul mu'minin] Khadijah binti Khuwailid, wanita suci, istri setia lagi tulus, seorang mukminah yang berjihad di jalan Allah demi agamanya dengan seluruh harta yang dimilikinya. Balaslah dia dengan sebaik-baik pembalasan atas jasa-jasanya yang begitu besar terhadap Islam dan kaum muslimin. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Demikian secuil tulisan mengenai Ibunda Mu'minin Khadijah, mudah-mudahan bermanfaat dan kita bisa mengambil pelajaran darinya, salah dan khilaf dalam penulisan tulisan ini mohon maaf.

Sumber : Silsilah Ummahatul Mukminin by Sumayyah 'Abdul Halim